Kamis, 26 Januari 2012

B2ST - I Knew It [English Lyric]


Sorry not to put the original lyric here, i just found the translation and it's soooo meaningful, so i post it here... but too lazy to search the original one, haha XD #slap
B2ST - I Knew It
I knew it, I knew it
You seem to have changed these days
You’ve been putting on a lot of makeup when you used to not put on any
And you’ve been going out to clubs when you used to not go at all, huh
It keeps bothering me
I tried to just laugh it off
But I can’t
(Since when was it)
That you’ve been playing with me
Were you really truthful
(How can you do this to me)
No wonder you’ve changed a lot these days
I didn’t even know, oh, and loved you only
* I knew this would happen, uh
When you said you were going to meet that guy
Why didn’t I stop you
I knew this would happen, uh
The moment I saw an unknown phone number
Since then, I knew this would happen

Selasa, 08 Maret 2011

Rambling #1

Annyeong~

Bukannya bikin season 2 (?) dari curhatan kisah hidup saya (??) dari entri sebelumnya, kali ini saya mau curhat hal lain lagi deh. Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang berputar dalam kepala saya, tapi saya nggak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. Malahan makin banyak yang ruwet. Mungkin saya mau mengeluarkannya mulai dari hal kecil dulu. Apa ya? Hm, mungkin saya mau membuat sebuah pengakuan (?) saja tentang diri saya. O-oke, tolong jangan timpukin saya dulu, saya cuma mau mengoceh sedikit disela cari literatur buat tugas-tugas kuliah saya. Hehehe.

Bagi sebagian orang yang mengenal saya, mungkin sudah tahu kalau saya emang suka memendam perasaan (jahhh). Yah memang benar saya biasanya nggak suka menunjukkan emosi saya di depan orang lain, tapi saya nggak sepenuhnya memendamnya kok. Kalau kalian jeli, sebenarnya saya melampiaskannya lho, tapi nggak secara frontal, haha.

Hmm, ambil contoh simpel, misalnya saya lagi sebel pada seorang teman, misalnya, karena dia menjelek-jelekkan superjunior (misalnya lho ini, saya nggak mau menyinggung hal sensitif disini :p ). Biasanya saya bakal bersikap biasa saja, tapi setelah itu saya melakukan hal sepele yang bikin dia sebel juga. Misal dia nitip sesuatu ke saya, saya bakal sengaja lupa dan senyum menyebalkan sambil minta maaf :p Tapi itu semata-mata cuma buat menghilangkan rasa sebal aja kok, dan cuma sebatas hal kecil dan nggak penting. Saya juga nggak bakal tega melakukan hal-hal yang keterlaluan. Saya nggak sejahat itu, percayalah u_u

Tapi setelah itu, saya bener-bener nggak bakal mengingat hal yang dilakukan teman saya tadi―entah dia sadar atau enggak dan entah itu menyakitkan atau cuma sekedar menyebalkan :p. Oke mungkin nggak bakal lupa sepenuhnya, tapi seenggaknya saya sudah menghilangkan rasa sebal saya dan menganggap dia adalah teman baik saya lagi :p

Dan masalahnya adalah, kalau saya lagi nggak kontak sama orang yang saya lagi sebel sama dia tadi itu, kadang suka berimbas ke orang lain yang lagi kontak sama saya, padahal dia nggak tahu apa-apa. Makanya untuk itu saya minta maaaaaf banget kalau ada waktu dimana saya bertingkah sangat menyebalkan. Berarti ada dua kemungkinan, pertama saya lagi sebel karena sesuatu atau seseorang yang saya lagi nggak kontak dengannya, atau kedua memang ada hal yang kamu lakukan yang bikin saya rada sebel :p *digaplok* atau bisa juga sih, ada kemungkinan ketiga yang sangat nggak bisa ditawar lagi, yaitu PMS. Spesialisasi cewek nih, hahaha. Yah intinya saya minta maaf yang sebesar-besarnya, kawan.

Iya, saya terima kok kalau kalian bilang saya pengecut atau apa. Saya terlalu takut menyampaikan kalau saya sebel. Saya takut menyinggung perasaan orang lain. Saya takut mereka akan meninggalkan saya. Saya tahu tiap orang punya pendapat sendiri sendiri, dan saya nggak mau perbedaan pendapat itu menjadi masalah. Maaf, saya nggak bisa terbuka tentang semua yang saya pikirkan, tapi sungguh, saya sama sekali nggak bermaksud buruk kok. Saya tahu mungkin saya belum bisa jadi teman yang baik. Saya juga kadang iri pada orang lain yang bisa dengan mudah terbuka tentang masalahnya, tapi entahlah saya belum merasa nyaman buat melakukannya. Tapi saya sayang banget, sungguh, pada teman-teman saya.

Saya melakukan ini cuma supaya rasa sebelnya nggak menumpuk, saya nggak mau sampai pada taraf sebel banget atau bahkan benci. Karena saya punya pengalaman nggak enak tentang itu, jadi saya nggak akan mengulanginya lagi. Saya nggak mau membenci orang lagi :p Sejauh ini sih memang nggak ada yang bikin saya sebel banget, tapi who knows, semoga saja tetap begitu, karena membenci itu menyakitkan. (hasyah bahasa gue)

Haha, lama-lama blog ini jadi diary saya nih. Padahal tadinya saya mau masukin fic juga disini, tapi belum jadi, hahaha. Yah sementara ini saya isi dengan curhatan ababil dulu saja, dan kalau ada yang mau membaca sampai disini, saya ucapkan terima kasih :P

Umm, berhubung saya orangnya nggak pede kalau curhat secara langsung, ada yang mau jadi teman curhat virtual saya? Dunia nyata terlalu mengerikan untuk dijadikan tempat curhat *ditampol massa*

See ya! :D

Jumat, 28 Januari 2011

Catatan Hidup (?) Seorang Fujoshi part #1

Hello, nae's here =)

Hmmm, untuk first entry dari blog saya ini, mungkin saya mau menceritakan tentang diri saya dulu. Hei, nggak ada salahnya kan sesekali bernarsis ria? Haha. Oke, berhenti nimpukin saya pakai kaleng-kaleng itu.

Dan ah, karena saya sudah hidup selama 17 tahun dan kisah hidup saya nggak mungkin diceritakan semua―yah, nggak penting juga sih―jadi saya akan menceritakan bagian tertentu saja, dan bagian yang saya pilih adalah tentang perjalanan saya sebagai seorang fujoshi. Oh, terlalu berlebihan ya? Baik, turunkan sepatu Anda yang hampir melayang itu. Kita mulai saja dengan damai, wahai pembaca yang budiman.

Saya sendiri nggak ingat kapan tepatnya saya mulai jadi fujoshi, tapi yang jelas virus ini mulai menyerang saya gara-gara suatu situs yang menampung karya-karya fiksi, sebut saja fanfiction.net (nama situs tidak disamarkan). Saya mulai mengenal situs ini berdasarkan rekomendasi seorang teman di kelas satu SMA (makasih banyak, Lia) dan seingat saya fiksi pertama yang saya baca adalah sebuah fic humor tentang akatsuki. Saya tertarik sekali, karena sebagai maniak manga Naruto (saat itu) bagi saya akatsuki adalah organisasi kelas S yang sangat keren dan misterius dengan banyak ninja pembunuh berdarah dingin (dan ehemgantengehem) di dalamnya. Tapi dalam fic itu organisasi tersebut entah bagaimana caranya berubah jadi organisasi dengan anggota-anggota yang konyol dan semuanya terasa wajar walaupun sangat out of character. Dari situlah saya akhirnya tertarik untuk mendalami situs tersebut. Kalau dipikir lagi sekarang, mungkin saat itu saya memang beruntung karena fic yang saya baca adalah karya author yang memang berbakat di bidangnya, coba kalau waktu itu yang saya baca adalah junkfic  (ehem mungkin akan saya jelaskan di lain waktu) mungkin saya nggak akan berminat untuk membaca lebih jauh lagi. Jadi, di akhir paragraf yang epik (?) ini, saya akan menyempatkan diri untuk mengucapakan terimakasih buat Yuki-senpai, atau siapapun pennamenya sekarang. =)

Ehem, sampai dimana tadi. Oh iya, jadi dari situlah saya mulai terjerumus ke dunia per-fanfic-an. Tapi waktu itu saya sama sekali belum mengenal kata fujoshi, shonen-ai, maupun yaoi lho. Saya masih demen-demennya baca humor dan mengeksplor apa saja sih yang ada di situs itu. Sampai akhirnya saya mulai suka baca genre yang lain juga seperti romance (itupun yang straight tentu saja), family, angst, sampai mystery juga. Oh iya, yang saya ingat pada fase (?) ini adalah, saya baca satu fic yang menurut saya keren sekali, yaitu Sasuke is Gaara. Fic itu benar-benar bikin saya (yang saat itu sangat korban sinetron) nangis bombay seharian. Fic itu juga fic pertama yang bikin saya rela baca belasan chapter secara maraton dengan mata sembab. Ah pokoknya waktu itu fic itu jempolan banget deh dimata saya. Saya sangat mengidolakan Anda, Ghee-senpai! :D

Masih di fase demen-demennya baca fic romance, kebetulan saya waktu itu sudah kelas dua SMA, dan temen yang nularin saya fanfic nggak sekelas dengan saya. Jadi saya mencoba menularkan hobi baru saya tersebut ke teman-teman saya di kelas dua. Dan respon mereka bagus sekali, saudara-saudara! Senang sekali akhirnya saya bisa menemukan teman untuk berbagi dunia saya yang rada autis itu. Teman saya yang pertama jadi korban adalah Asuka dan Sayuri (nama jepang tidak disamarkan). Saya nggak tahu ini dosa atau enggak, tapi mereka juga jadi ikutan maniak fanfiction seperti saya. Bahkan sejak itu hari-hari kami jadi diisi dengan sharing tenmtang fic yang barusan dibaca atau rekomendasi fic yang menurut kami bagus. Dan, sebenarnya kami sebelumnya memang sudah klop karena sama-sama suka hal-hal yang berbau jejepangan, tapi menurut saya kami jadi makin dekat setelah kenal dunia FFn. =)

Dan yah, akhirnya saya bikin account sebagai author disana (sebenarnya bukan saya, tapi Yuki yang maksa saya dan sampe bikinin akun author segala, anyway makasih tak terhingga, Yukeh! Ailapyu! #plak) dan memulai debut saya sebagai author di tahun 2008 dengan sebuah fic humor abal yang berjudul Prestige. Ah, saya ingat betapa senangnya saya waktu dapet 13 reviews, saya sampai cengengesan di kamar sambil baca reviews itu berkali-kali. Bagi saya, bukan masalah mereka bilang fic saya bagus atau enggak, tapi bahwa mereka membaca sampai selesai, merespon, dan mereka bilang mau menunggu chapter selanjutnya, itu yang paling bikin saya senang bukan kepalang. Oke mungkin kedengarannya lebay, tapi saya benar-benar merasa begitu, saya masih ingat. =) Sebenernya fic itu sumpah, humornya ngaco banget, tapi justru itu yang bikin saya kangen. Sekarang saya nggak bisa bikin humor lagi *cries* bahkan saya ngetik tulisan ini pun niat awalnya pengin saya bikin humor, tapi apa daya sekarang sense nulis humor saya nggak seperti dulu lagi. Apa menurut kalian tulisan ini bergenre humor? Bukan ya? Well, jangan lempari saya pakai biji tomat begitu dong.

Oke, setelah saya meluncurkan (?) fic perdana saya, teman-teman saya juga ikut mempost fic mereka, dan resmilah kami menjadi trio kwek-kwek (makasih julukannya, Jahwa) dan bahkan kami sempat merencanakan bikin fic collab, tapi sepertinya nggak jadi karena suatu hal yang saya nggak ingat. Iya, saya memang pelupa kok. Dan oh iya, ada juga teman saya lainnya yang mulai tertarik dengan dunia fanfic yaitu Aya dan Ndin, bahkan Aya sempat juga membuat fic tapi dia nggak menyelesaikannya sampai sekarang (bahkan saya curiga dia sudah lupa). Tapi yang tetap eksis ya cuma trio kwek―maksud saya Asuka, Sayuri, dan saya sendiri. Dan kami pun melanglang buana (?) di dunia fanfiction, tapi yang tetep konsisten sih cuma Asuka, saya dan Sayuri vakum menulis untuk alasan yang berbeda. Tapi sekarang sepertinya Sayuri sudah kembali, dan saya masih tetap jadi author moody yang cuma mau nulis kalau lagi mood saja, dan itu hanya terjadi beberapa kali dalam setahun. Iya, kali ini saya ngalah deh, silakan timpukin author nggak becus ini.

Ah! Harusnya di fase ini saya sudah jadi fujoshi! Tapi saya bingung harus menyelipkan dimana saat ketika saya mengenal shonen-ai... Pokoknya di saat melanglang buana itulah saya dan tema-teman mulai suka baca fic shonen-ai. Sebenernya awalnya saya mengernyit sih bacanya, bagaimanapun juga itu kan bukan merupakan sesuatu yang normal. Tapi setelah baca beberapa fic shonen-ai yang entah bagaimana terasa wajar dan bahkan lebih menyentuh daripada kisah cinta ‘normal’ biasanya, saya jadi mulai suka shonen ai, dan pair favorit pertama saya adalah sasunaru. Tapi saya sebatas baca yang shonen-ai, nggak sampai yang yaoi apalagi yang mengandung mature content. Bahkan sampai sekarang saya masih mikir-mikir dulu kalau mau baca yang M-rated. Cuma kalau teman-teman saya, dalam hal ini mereka malah sudah melangkah lebih jauh. Toh saya suka yang sebatas manis-manis aja, kalau terlalu hardcore saya mah nggak berani, hehehe...

Dan ya begitulah, saya dan teman-teman mulai menjalani hidup (?) sebagai author fujoshi. Bahkan di dunia nyata pun kami suka mengandaikan beberapa teman cowok yang sedang dalam posisi ‘memungkinkan’ jadi shonen-ai. Tapi tentu saja itu cuma main-main, mereka nggak benar-benar gay kok. Tapi karena motto fanfiction.net adalah Unleash Your Imagination, jadi kami cuma mengembangkan imajinasi kami saja, siapa tahu bisa jadi bahan inspirasi buat bikin fic, hahaha. Intinya, kami menikmati sekali hari-hari kami sebagai fujoshi. ^^

Waktu berlalu begitu cepat, dan tahu-tahu kami sudah memasuki tahun terakhir kami di SMA dan guru-guru sudah memforsir kami dengan tambahan pelajaran ini-itu dan saya juga sibuk bimbel. Fangirling kami terhadap objek-objek shonen-ai sedikit banyak mulai berkurang, dan yah ada beberapa masalah yang sempat terjadi, tapi hubungan pertemanan kami semua syukurlah masih tetap terjaga sampai sekarang (love you all, mamen... kita sekeluarga, kan? aku selalu kangen menggila bareng kalian). Dan kami juga masih menjaga status sebagai fujoshi kok, walaupun objeknya jadi berkembang ke realperson setelah kami jadi suka K-pop. Sampai sekarang juga kami masih sering fangirling cowok-cowok korea―yang entah gimana kayaknya cocok banget dijadiin shoai itu―di samping suka juga dengan lagu-lagunya. Saat ini memang saya lagi addicted banget sama kpop.

Jadi walaupun sekarang sedang demam kpop, saya dan teman-teman masih tetap bisa mengembangkan imajinasi fujoshi dengan baik sampai sekarang, walaupun kami sudah lulus dan melanjutkan ke universitas yang berbeda-beda. Walaupun terpisah, saya harap sampai tua nanti kami masih tetap dekat seperti ini―yah mungkin saya terdengar naif, manusia berubah seiring waktu... tapi tak ada salahnya tetap percaya pada janji sahabat seperti waktu kecil dulu kan? Saya sempat curhat pada salah satu teman saya, saya takut jika nanti tidak ada yang fujoshi seperti saya dan blablabla... Rupanya teman saya juga merasakan hal yang sama. Tapi toh kehidupan tetap harus berjalan dan saya kalau bisa akan menularkan saja sekalian pada teman kuliah saya nanti, hahaha.

Itu sih niat awal saya, sebelum mulai kuliah. Tapi ternyata semua nggak semudah yang saya kira, bahkan masa kuliah lebih berat dari yang saya bayangkan... Niat saya untuk meneruskan status saya sebagai fujoshi selama setahun lebih jadi terombang-ambing...

Kamis, 27 Januari 2011

aBowman » Hamster

aBowman » Hamster: "This lively pet hamster will keep you company throughout the day. Watch him run on his wheel, drink water, and eat the food you feed him by clicking your mouse. Click the center of the wheel to make him get back on it."